Sabtu, 01 Februari 2014
Senin, 11 November 2013
Elektrokimia adalah kajian reaksi redoks yang dilaksanakan sedemikian sehingga dalam sistem itu terdapat potensial listrik yang dapat diukur. Dalam sebuah sel volta suatu reaksi redoks spontan membangkitkan arus listrik yang mengalir lewat rangkaian luar. Dalam suatu sel elektrolisis suatu reaksi tak spontan didorong oleh suatu arus listrik yang diberikan oleh suatu sumber luar. Semua sel elektrokimia harus juga mempunyai suatu rangkaian dalam lewat mana arus dapat mengalir dalam bentuk ion yang berdifusi. Beberapa tipe sel tertentu menggunakan jembatan garam untuk maksud ini. Dalam masing masing sel oksidasi berlangsung pada anoda dan reduksi berlangsung pada katode. Elektron mengalir dari anoda ke katode dalam rangkaian luar. Satuan pengukuran untuk banyaknya elektron laju aliran dan selisih potensial listrik yang mendorong arus ini masing masing adalah coulomb, ampere, dan volt.
Untuk kondisi tertentu apa saja tiap elektrode mempunyai potensial elektrode yang ditentukan oleh setengah reaksi yang terjadi disitu. Sebuah elektrode yang bekerja pada kondisi standar disebut elektrode standar. Potensial elektrode hanya dapat diukur secara tidak langsung pada kondisi standar harga harga merek ditentukan relatif terhadap harga elektrode perbandingan standar. Elektrode yang digunakan untuk maksud ini adalah elektrode hidrogen standar.,yang secara sembarang diberi potensial sebesar nol. Dengan perjanjian, semua potensial elektrode ditabelkan Sebagai potensial reduksi standar.
Setengah sel oksidasi dan setengah sel reduksi apa saja dapat dijumlahkan untuk memperoleh sebuah reaksi sel hipotesis jika kedua potensial redukzi standar tersebut diketahui, voltase sel dapat dihitung secara langsung tanpa memerlukan pengukuran secara eksperimen. Tanda voltase itu menunjukkan apakah reaksi sel seperti yang ditulis itu spontan ataukah tidak pada kondisi standar. Voltase sel yang dihitung atau diukur merupakan cara yang mudah dan cermat untuk menghitung baik tetapan keseimbangan maupun perubahan energi bebas standar reaksi itu. Persamaan Nernst digunakan untuk menghitung voltase sel pada kondisi temperatur dan konsentrasi spesi yang tak standar.
Rabu, 23 Oktober 2013
|
Unsur
|
Mineral dan Sumber
|
|
Be
|
Beril (Be3Al2(SiO3)6)
|
|
Mg
|
Magnesit (MgCO3)
Dolomit (CaCo₃ . MgCO₃)
Air laut
Epsomit (MgSO₄.7H₂O)
|
|
Ca
|
Dolomit, Aragonit
Batu Kapur (CaCO₃)
|
|
Sr
|
Selestit (SrSO₄)
|
|
Ba
|
Arit (BaSO₄)
|
|
Ra
|
Pekblende
|
Kamis, 19 September 2013
1. Bagaimana titik beku larutan dibandingkan dengan titik beku pelarut murni?
2. Apakah zat terlarut menahan pelarut agar tidak membeku?
3. Bagaimana pengaruh kemolalan zat terlarut terhadap:
a) titik beku larutan?
b) Penurunan titik beku larutan?
Jawaban:
Penurunan Titik Beku
1. Membeku merupakan perubahan dari fase cair ke padat. Titik beku adalah suhu dimana tekanan uap cairan sama dengan tekanan uap padatannya. Titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut murni. Hal ini disebabkan zat pelarutnya harus membeku terlebih dahulu, baru zat terlarutnya. Jadi larutan akan membeku lebih lama daripada pelarut. Setiap larutan memiliki titik beku yang berbeda.
2. Apabila ke dalam air murni kita larutkan garam dan kemudian suhunya kita turunkan sedikit demi sedikit, maka dengan berjalannya waktu pendinginan maka perlahan-lahan sebagian larutan akan berubah menjadi fasa padat hingga pada suhu tertentu akan berubah menjadi fasa padat secara keseluruhan. Pada umumnya zat terlarut lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, akibatnya pada saat proses pendinginan berlangsung larutan akan mempertahankan fasanya dalam keadaan cair, sebab secara energi larutan lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, hal ini menyebabkan potensial kimia pelarut dalam fasa cair akan lebih rendah (turun) sedangkan potesnsial kimia pelarut dalam fasa padat tidak terpengaruh. Maka akan lebih banyak energi yang diperlukan untuk mengubah larutan menjadi fasa padat karena titik bekunya menjadi lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya. Inilah sebab mengapa adanya zat terlarut akan menurunkan titk beku larutannya.
3. Pengaruh kemolalan urea terhadap :
a) Titik beku larutan
Semakin tinggi kemolalan urea, semakin rendah titik bekunya
b) Penurunan titik beku larutan
Semakin tinggi kemolalan maka semakin besar perbedaan penurunan titik beku karena
kemolalan sebanding dengan penurunan titik beku.
(dari berbagai sumber)
Tahukah kamu apa yang dimaksud dengan penurunan titik beku? Kita tahu bahwa air murni membeku pada suhu 0oC, dengan adanya zat terlarut misalnya saja kita tambahkan gula ke dalam air tersebut maka titik beku larutan ini tidak akan sama dengan 0oC, melainkan akan turun dibawah 0oC, inilah yang dimaksud sebagai “penurunan titik beku”.
Jadi larutan akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya. Sebagai contoh larutan garam dalam air akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya yaitu air, atau larutan fenol dalam alkohol akan memiliki titik beku yang lebih rendah dibandingkan dengan pelarut murninya yaitu alkohol.
Mengapa hal ini terjadi? Apakah zat terlarut menahan pelarut agar tidak membeku? Penjelasan mengapa hal ini terjadi lebih mudah apabila dijelaskan dari sudut pandang termodinamik sebagai berikut.
Contoh, air murni pada suhu 0oC. Pada suhu ini air berada pada kesetimbangan antara fasa cair dan fasa padat. Artinya kecepatan air berubah wujud dari cair ke padat atau sebaliknya adalah sama, sehingga bisa dikatakan fasa cair dan fasa padat pada kondisi ini memiliki potensial kimia yang sama, atau dengan kata lain tingkat energi kedua fasa adalah sama.
Besarnya potensial kimia dipengaruhi oleh temperatur, jadi pada suhu tertentu potensial kimia fasa padat atau fasa cair akan lebih rendah daripada yag lain, fasa yang memiliki potensial kimia yang lebih rendah secara energi lebih disukai, misalnya pada suhu 2oC fasa cair memiliki potensial kimia yang lebih rendah dibanding fasa padat sehingga pada suhu ini maka air cenderung berada pada fasa cair, sebaliknya pada suhu -1oC fasa padat memiliki potensial kimia yang lebih rendah sehingga pada suhu ini air cenderung berada pada fasa padat.
Apabila ke dalam air murni kita larutkan garam dan kemudian suhunya kita turunkan sedikit demi sedikit, maka dengan berjalannya waktu pendinginan maka perlahan-lahan sebagian larutan akan berubah menjadi fasa padat hingga pada suhu tertentu akan berubah menjadi fasa padat secara keseluruhan. Pada umumnya zat terlarut lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, akibatnya pada saat proses pendinginan berlangsung larutan akan mempertahankan fasanya dalam keadaan cair, sebab secara energi larutan lebih suka berada pada fasa cair dibandingkan dengan fasa padat, hal ini menyebabkan potensial kimia pelarut dalam fasa cair akan lebih rendah (turun) sedangkan potesnsial kimia pelarut dalam fasa padat tidak terpengaruh.
.png)
