Buta Warna - Gabriella Victoria

Sabtu, 21 September 2013

Buta Warna



Penyakit buta warna yang paling banyak terjadi dan umum adalah kekurangan pigmen merah dan juga hijau. Akibat yang ditimbulkan dari seseorang yang kekurangan pigmen tersebut maka seseorang akan mengalami kesulitan dalam hal mengidentifikasi dan mengenali akan warna merah dan hijau atau campuran keduanya.

Demikian pula yang terjadi apabila kekurangan pigmen warna biru dan kuning, penderita buta warna kesulitan mengidentifikasi warna-warna tersebut dan campurannya. Pada umumnya, penderita buta warna biru dan kuning hampir selalu memiliki masalah mengidentifikasi warna merah dan juga warna hijau. Sehingga dengan hal tersebut kita bisa mempunyai cara mengenali buta warna ini.

Dalam dunia medis, buta warna diklasifikasikan dalam 3 kategori. Kategori dan jenis buta warna tersebut adalah :
  1. Trikromasi. Pada penderita penyakit buta warna yang merupakan juga penyakit yang diturunkan / penyakit turunan ini terjadi perubahan sensivitas warna dari satu jenis atau lebih sel kerucut. Apabila terjadi kelemahan pada warna biru disebut dengan tritanomali. Buta warna inilah yang paling sering terjadi. Bila kelemahan pada warna merah disebut dengan protranomali. Sedangkan deutromali adalah kelemahan pada warna hijau.
  2. Dikromasi. Jenis buta warna ini dalam keadaan ketika satu dari tiga sel kerucut tidak ada dalam retina mata seseorang. Klasifikasi buta warna pada jenis ini adalah protanopia, deuteranopia, tritanopia. Yang dimaksud dengan protanopia adalah bila sel kerucut warna merah tidak ada sehingga tingkat kecerahan warna merah atau perpaduannya menjadi kurang. Yang dimaksud dengan deuteranopia adalah retina tidak memiliki sel kerucut yang peka terhadap warna hijau dan tripanopia adalah bila sel warna kerucut biru tidak ditemukan pada retina mata.
  3. Monokromasi. Penderita buta warna jenis ini mengalami hilang atau berkurangnya semua penglihatan warna sehingga yang terlihat hanya putih dan hitam pada jenis warna typical dan sedikit warna pada jenis atypical. Jenis buta warna ini mempunyai prevalensi yang sedikit.
Lalu bagaimana cara kita mengetahui / mendeteksi buta warna ini? Sebenarnya hal dan cara dalam mendeteksi buta warna dapat dilakukan dengan cukup mudah. Kita mengenalnya dengan nama tes Ishihara. Cara pemeriksaan buta warna ini pun cukup simple dan juga sederhana yaitu dengan cara seseorang disuruh untuk melihat kumpulan angka berwarna yang sudah dibentuk sedemikian rupa. Bila seseorang tersebut tidak dapat menyebutkan angka yang tertera dalam buku yang disediakan untuk melakukan pemeriksaan pada seseorang tersebut maka dipastikan orang itu menderita apa yang disebut kelainan buta warna. Ini tes buta warna yang pertama.

Pemeriksaan buta warna lainnya adalah dengan melakukan uji coba pseudisokromaqtik yang di susun titik dengan berbagai kecerahan dimana seseorang normal akan dapat mengenal gambar yang di bentuk, karena titik di buat dengan batas yang jelas dengan latar belakangnya. Sedangkan pada penderita ini tidak dapat mengenali akan berbagai gambar yang dibentuk. Ini juga termasuk salah satu cara tes buta warna.

Tidak ada komentar:

@way2themes